Ketika Jalanan Jadi Medan Tempur: Ekonomi Gig dan Ledakan Konflik Horizontal di Perkotaan
Bentrokan pengemudi daring dan mahasiswa bukan sekadar gesekan fisik. Ini cermin kerentanan ekonomi gig, perebutan ruang publik, dan mobilisasi algoritmik yang perlu diwaspadai.

Pendahuluan: Sinyal Bahaya dari Jalanan
Di balik berita tentang bentrokan antara pengemudi ojek daring dan kelompok mahasiswa, tersimpan pertanyaan besar yang jarang diajukan: mengapa dua kelompok yang sama-sama rentan secara ekonomi justru saling berbenturan? Sebagai pengamat ekonomi, saya melihat fenomena ini bukan sebagai insiden sporadis, melainkan gejala dari tekanan struktural yang menumpuk di ruang publik perkotaan. Artikel ini akan membedah akar persoalan, dinamika mobilisasi, dan implikasi ekonominya, dengan merujuk pada analisis sosiologis yang tajam.
Daftar Isi
- Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama
- Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
- Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
- Kesimpulan: Menakar Ulang Kerentanan Ekonomi Gig
Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama
Konflik horizontal di kawasan perkotaan kerap meletup ketika dua kelompok dengan kepentingan mendesak saling berbenturan di ruas jalan arteri yang terbatas. Di satu sisi, mahasiswa menggunakan badan jalan sebagai ruang artikulasi politik untuk menarik perhatian publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur diposisikan sebagai instrumen unjuk kekuatan simbolik di ruang terbuka. Di sisi lain, pengemudi ojek daring bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu tempuh, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Terhambatnya akses jalan langsung memotong pendapatan riil serta berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi.
Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi seketika, gesekan kecil di garis depan unjuk rasa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat segera berujung pada perusakan properti dan benturan massal antarkelompok. Dalam kacamata ekonomi, ini adalah bentuk eksternalitas negatif dari ketiadaan mekanisme koordinasi di ruang publik.
Mengapa Ini Penting bagi Pasar?
Bagi pelaku pasar, konflik semacam ini menciptakan ketidakpastian operasional. Pekerja platform kehilangan jam kerja produktif, sementara aksi mahasiswa yang berujung ricuh dapat menurunkan sentimen investasi di kawasan tersebut. Lebih jauh, biaya sosial yang timbul—dari kerusakan fasilitas hingga penurunan kepercayaan publik—pada akhirnya dibebankan pada perekonomian secara luas.
Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
Ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri untuk berbagi rute atau informasi darurat dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik. Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial memantik apa yang disebut Émile Durkheim sebagai solidaritas mekanis: kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban.
Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat. Dalam bahasa ekonomi, ini adalah bentuk respons cepat terhadap sinyal pasar yang terdistorsi—informasi yang tidak lengkap memicu aksi kolektif yang tidak proporsional. Fenomena ini menunjukkan bahwa algoritma, yang seharusnya meningkatkan efisiensi, juga bisa mempercepat eskalasi konflik jika tidak diimbangi dengan mekanisme verifikasi.
“Kecepatan mobilisasi massa berbasis platform digital menciptakan tantangan baru bagi tata kelola ruang publik. Tanpa filter informasi yang memadai, solidaritas mekanis bisa berubah menjadi amukan kolektif.”
Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Keduanya adalah korban dari sistem yang belum mampu menyediakan ruang dialog yang memadai.
Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret:
- Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan.
- Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak.
- Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas.
Merujuk pada analisis dalam Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus, insiden kekerasan di lingkungan kampus menjadi cermin retaknya komunikasi sosial serta rapuhnya ruang publik saat dua kelompok warga beririsan di koridor jalan yang sama. Pengalaman tersebut menegaskan bahwa tanpa mediasi yang solid, potensi konflik selalu mengintai.
Kesimpulan: Menakar Ulang Kerentanan Ekonomi Gig
Bentrokan antara pengemudi daring dan mahasiswa adalah alarm bagi para pemangku kepentingan. Dalam perspektif ekonomi, kerentanan pekerja platform—yang pendapatannya sangat bergantung pada kelancaran mobilitas—menjadi titik rawan yang dapat memicu konflik sosial. Di sisi lain, aksi mahasiswa yang terhambat juga berpotensi mengurangi efektivitas advokasi kebijakan.
Sudah saatnya kita memandang ruang publik bukan sekadar sebagai jalur lalu lintas, tetapi sebagai arena negosiasi kepentingan yang memerlukan tata kelola inklusif. Tanpa itu, gesekan horizontal akan terus berulang, menggerus produktivitas dan kohesi sosial. Sebagai wartawan ekonomi, saya mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat permukaan, tetapi juga menuntut solusi struktural: penguatan dialog antar-komunitas, transparansi algoritma, dan jaminan akses yang adil bagi semua pengguna jalan.
Mari kita dorong terciptanya ekosistem perkotaan yang lebih tangguh, di mana setiap kelompok dapat menyuarakan aspirasinya tanpa harus berbenturan. Karena pada akhirnya, stabilitas sosial adalah fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sumber / Referensi
Daftar Pustaka
Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.
Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.
https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampusCatatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Property For Sale And Rent.
